DESA TRUNYAN

profilekomunikasipaketkontak
paket tour 2 malam paket tour 3 malam paket tour 4 malam
Paket Tour Murah

Tour satu hari penuh ke desa Kuno bernama Trunyan yang lokasinya di pinggir danau Batur sekitar 65 km dari kota Denpasar. Danau Batur adalah sebuah kaldera yang muncul karena adanya letusan gunung hebat di masa lampau, mungkin semenjak pembentukan pulau Bali. Sisa-sisa aktivitas gunung berapi ini sampai sekarang masih bisa dilihat jika kita mendaki ke puncak Batur. Dari atas bibir barat kaldera yaitu dari desa Panelokan, desa Trunyan tidak kelihatan, walaupun garis pantai danau demikian jelas kelihatan karena jaraknya yang jauh di bawah. Di lingkungan danau ini ada beberapa desa kuno yang sudah disebutkan dalam dokumen yang dikeluarkan raja Bali tahun 963 M yaitu Trunyan, Kedisan, dan Buahan. Semua desa yang disebut 1051 tahun lalu ini masih bisa kita lihat sekarang.

Untuk mencapai desa ini wisatawan harus naik mobil ke arah Kintamani, atau persis sama jalannnya dengan tour ke Kintamani, dan turun ke pinggir danau dari desa Panelokan, dan naik boat 45 menit yang kapasitasnya 6 orang. Masyarakat dibantu oleh Pemda Bangli memang sudah mengusahakan jalan darat, akan tetapi karena medannya yang sulit maka jalan darat belum memberikan rasa aman.

Batur dan Trunyan

Tahun 1963 secara bersamaan gunung Batur bersama gunung Agung meletus yang menyebabkan seluruh Bali gelap total dalam waktu satu hari lebih, khususnya Bali Tengah. Menurut catatan letusan ini telah merusak sebagian besar fasilitas kehidupan manusia di Bali khususnya yang menjadi daerah runtuhan material vulkanik di kabupaten Karangasem. Untungnya desa Trunyan tidak terkena imbas berarti dari leturan gunung Batur ini, demikian juga tidak terlalu dipengaruhi oleh letusan gunung Agung.

Berdasarkan penelitian arkeologi, penduduk desa Trunyan ini lebih dulu sudah tinggal di Bali dibandingkan dengan masyarakat dataran rendah sekarang, bersama-sama dengan penduduk desa Tenganan Pegringsingan, desa Sembiran, desa Tigawasa, desa Pedawa dan desa Sidatapa. Semua desa ini disebut Bali Aga, atau Bali Mula yang artinya Bali asal. Namun sebenarnya mereka hanya lebih dulu tiba di Bali yang oleh para arkeolog disebut ras detro Malay, karena sudah bercampur dengan para pendatang dari daratan Asia utama.

Tradisi mereka walaupun kena pengaruh Hindu, akan tetapi agak berbeda dengan Hindu Bali secara umum. Mereka masih mempertahankan tradisi leluhur mereka yang sangat fleksibel dalam hal kepercayaan, dan bahkan masih kelihatan dari ritual-ritual yang mereka lakukan. Hal inilah sebenarnya sangat benar untuk sebuah bangsa agar tidak bertentangan dengan kepribdiannya sendiri, jadi jangan ada orang Bali berpakaian India, ini sangat tidak menguntungkan untuk kemajuan peradaban.

Tradisi Penguburan Trunyan

Salah satu ritual yang telah banyak menarik wisatawan adalah tradisi penguburan mereka. Ada 3 kuburan yang mereka ciptakan, pertama adalah kuburan bagi orang yang meninggal secara wajar, kuburan kedua adalah bagi warganya yang meninggal tidak wajar misalnya karena jatuh, kecelakaan, karena penyakit aneh, atau meninggal di usia yang belum sepatutnya menurut mereka, dan kuburan yang ketiga adalah kuruban bayi. Caranya mereka memperlakukan warganya yang sudah meninggal adalah hanya meletakkan saja di atas tanah dikelilingi dengan pagar bambu. Tidak ada bau busuk yang menyebar di sekitar kuburan tersebut. Hal ini dipercayai sebagai akibat penyerapan oleh pohon menyan yang besar di kuburan tersebut. Dan nama desa Trunyan sendiri dipercayai oleh warganya berasal dari nama kayu tersebut. Akan tetapi dokumen kerajaan bercerita berbeda. Bahwa raja menyebut warga yang tinggal di desa itu sebagai turunan dari leluhurnya yang bernama bhatara Da Tonta. Sanskerta turunan ditulis sebagai Turunan dan dibaca Turunyan, seperti membaca n Spanyol. Menurut penulis inilah asal dari nama Trunyan.

Mereka tidak mengenal ritual Hindu seperti Ngaben, akan tetapi sekitar 6 tahun lau mereka melakukan upacara ngaben ikut-ikutan dengan Bali lainnya yang sudah kebablasan. Sayangnya PHDI dan tokoh Hindu lainnya tidak mengerti atau pura-pura tidak tahu membiarkan mereka melakukan ngaben yang akan merusak tradisi mereka. Sangat disayangkan.

Harga Rp 1.100.000/orang minimum 5 orang perserta. Belakangan harga tour ke Trunyan itu menjadi begitu mahal karena kenaikan harga bahan bakar minyak. Harga sudah net termasuk sewa boat penyebrangan danau Batur, tiket masuk, dan sumbangan di desa Trunyan

Untuk keterangan lebih lanjut bisa dihubungi
Bali Kumala Sari ( BIstur ) Ph 0361 463 448/447 atau sms/wa ke 081 936 128 707
atau hubungi kami belakangan melalui email :
email

Tour Lainnya
  1. Mendaki Gunung Batur
  2. Taman Ayun dan Begudul
  3. Besakih dan Klungkung
  4. Kota Denpasar
  5. Tarian Kecak
  6. Barong dan Kintamani
  7. Sangeh dan Taman Ayun
  8. Shopping Pasar Sukawati
  9. Pura Tanah Lot
  10. Desa Kuno Trunyan
  11. Pura Uluwatu