SEBAIKNYA DIKETAHUI

profilekomunikasipaketkontak
paket tour 2 malam paket tour 3 malam paket tour 4 malam
Paket Tour Murah

Komunikasi

Pada masyarakat Bali tatanan sosial tradisional masih hidup lebih kuat dibandingkan dengan masyarakat Jawa, demikian juga seni suara macepat yang diciptakan pada jaman Mataram kuna ( Jogya abad 8 s.d 9 berlanjut s.d Majapahit ) di Bali masih sering terdengar pada waktu upacara agama. Walaupun sebenarnya di kalangan generasi muda lapisan sosial ini sudah tidak lagi terasa tapi pada kenyataannya masih saja tercermin dalam hubungan komunikasi sehari-hari di kalangan orang yang sudah lebih tua, sedangkan bagi anak-anak komunikasi sudah dialihkan ke bahasa Indonesia sehingga tidak perlu memakai bahasa "alus ke atas atau ke bawah" Pelapisan masyarakat Bali tersebut akibat dari adanya pemisahan secara turun temurun antara penguasa dan masyarakat luar penguasa, khususnya sejak tahun 1343 waktu dimulainya penguasa non Bali memerintah di Bali yaitu raja yang ditempatkan di Bali oleh kerajaan Majapahit.

Pada 1 Juli 1929 para diplomat Belanda memberi gelar " Anak Agung" dan ada juga yang disebut " Cokor I Dewa disingkat Cokorda" yang artinya kaki dari raja besar klungkung yang disebut " Sesuhunan " Keputusan penetapan gelar raja-raja itu termuat dalam lembaran negara atau Staatblad 226. Namun belakangan walaupun tidak menjabat sebagai raja, keturunannya tetap memakai gelar I Dewa atau Anak Agung.

Pada kelompok lain ada golongan yang membidangi agama yang bergelar Dang Hyang atau Rsi yang ini nampaknya menurunkan kelompok yang dikenal di Bali sebagai Ida Bagus untuk laki dan Ida Ayu atau Dayu untuk perempuan. Ketiga kelompok inilah disebut Triwangsa dan jika berkomunikasi menggunakan bahasa yang disebut Alus Singgih dan Alus Sor yang secara kasarnya disebut alus ke atas dan alus ke bawah. Namun ini tidaklah penting bagi non Bali, hanya saja untuk kata sandang sering menjadi hal yang agak risih bagi orang Bali sendiri. Misalnya panggilan " Beli " untuk pengertian kakak, bagi orang Bali tidak etis mengalamatkan kata ini kepada triwangsa, tapi hal biasa di kelompok mereka. Sebagai gantinya untuk " rasa " orang non Bali banyak memakai kata-kata pinjaman seperti Pak ... atau Mas ... atau orang minta ijin dulu sebutan apa yang bisa dia pakai. Sebaiknya jangan memakai bahasa Bali untuk komunikasi jika pemahaman tatanan sosial tentang Bali belum pas.

Masuk Pura

Tidak semua pura bisa dimasuki. Tour guide atau sopir bisa memberikan informasi mengenai kondisi di lapangan. Hal ini sangat penting karena ada banyak tradisi yang berlaku. Misalnya saja jika ada orang meninggal pada suatu desa maka dianggap tidak bolah memasuki pura sampai beberapa hari. Jika ini dilanggar maka akan dikenakan denda rumit berupa pelaksanaan upacara agama. Hanya pura tertentu yang selama ini disebut dengan Sad Kahyangan yang boleh dimasuki karena mengabaikan beberapa larangan berhubung orang yang datang sembahyang berasal dari berbagai tempat di Bali.
Bagi wanita yang sedang mengalami datang bulan juga diminta kesadarannya untuk tidak memasuki pura, demikian juga Ibu yang bersama bayi kurang dari 1 tahun diharapkan tidak masuk pura. Jika ada orang Bali yang terluka di halaman pura sampai meneteskan darah dikenakan denda yang sama rumitnya.

Pakain masuk pura

Pura Uluwatu, Besakih, dan Tirta Empul minta para pengunjung untuk memakai kain slempot yang dikitarkan di pinggang. Hal ini adanya tradisi yang kuat bahwa untuk memasuki pura harus pakai pakaian Bali asli, bahkan pakaian Hindu seperti di India tidak dianggap cocok. Ada beberapa kata yang tidak boleh diucapkan di Pura yaitu porno dan kasar hujatan karena dikenakan denda rumit. Celana pendek dan singlet tidak dikenakan denda tapi secara etika tidak dianggap cocok dan menimbulkan rasa tidak menghormati tempat suci.