BANTEN

profilekomunikasipaketkontak
paket tour 2 malam paket tour 3 malam paket tour 4 malam
Paket Tour Murah

Bagi umat agama di luar Hindu pasti sangat heran melihat sebuah upacara keagamaan di Bali baik yang dilakukan di rumah tangga, lingkungan maupun pura-pura umum yang menengah maupun yang besar. Banyak yang menanyakan demikian rumitnya, apakah berupa sebuah sistem, dan apa maknanya, dan berbagai pertanyaan muncul. Memang bagi masyarakat Bali tidak ada kebiasaan untuk melihat sejarah terjadinya banten atau paling tidak membandingkan berbagai makna yang sekarang dilekatkan kepada masing-masing jenis banten tersebut. Sebenarnya banten untuk ritual di Bali tidak bisa diartikan sebagai persembahan maupun dimaknai sebagai kurban, karena sifat dan sejarahnya yang pasti berkiblat ke seni bukan simbul-simbul keagamaan yang dimaknai sebagai sebuah keharusan tanpa pertentangan. Namun harus dikatakan bahwa primitif bukan berarti jelek, justru primitif bagi sebuah kelompok adalah salah satu pembentuk kepribadiannya sendiri yang berasal dari tanah airnya, sehingga mereka punya akar budaya yang kuat. Akan berbeda sekali kalau akar budayanya hilang karena pengaruh ide asing, maka yang akan terjadi ketidakpastian. Contoh masyarakat Jepang dan China yang sangat kuat kepribadiannya yang diwadahi oleh kesusastran mereka, betapapun manjunya bangsa ini tidak akan mudah bangsa lain untuk menirunya karena mereka punya budaya sendiri yang sangat sulit ditembus apalagi ditambah dengan wadah budayanya yang berupa kan-ji yang bagi mereka sendiri tidak mudah.

Banten Bukan Kurban

Jika kita melihat hasil penelitian antrolpologi khususnya bidang etnografi kita mengerti bahwa ide banten tersebut nampaknya berkembang dari persembahan primitif yang merupakan budaya asli bangsa Indonesia. Dalam perjalanan sejarah sangat dipengaruhi oleh budaya asing seperti India. Kalau di India kegiatan ritual di masa lampau sangatlah besar dengan beaya yang sangat besar dan benar-benar berarti persembahan atau kurban. Walalupun budaya tersebut sekarang ini di India sudah tidak ada lagi sejak puluhan tahun silam, karena di kalangan masyarakat India sudah mengerti makna beragama.

Banten adalah Seni

Pengerjaan sebuah banten yang akan dibawa ke pura pada waktu acara keagamaan lebih didasari dari jiwa kesenian dan keindahan atau pendeknya estetika secara umum, namun intinya masih sama dengan ratusan tahun yang lalu bahwa manusia bersukur kepada Tuhan karena telah dikarunia penghidupan. Memang kalau informasi tersebut digali dari mereka yang sehari-hari mengerjakan banten tersebut tidak akan didapat informasi yang benar, karena mereka lebih diberikan pengertian untuk tidak bertanya tentang apa yang dibuat. Benarkah jika semua masyarakat mengetahui makna sebenarnya dari ritual agama khussunya banten tersebut lalu tradisi menjadi pudar? Pertanyaan ini yang mengkhawatirkan setiap orang Bali. Menurut penulis tidak perlu takut, karena sesuatu yang dilakukan secara sadar dengan pengetahuan yang benar maka tidak akan terjadi konflik, tidak akan terjadi pembohongan, dan akan berazas kepada manfaat. Suatu contoh kenapa masyarakat Jepang melestarikan budaya Omikoshi, karena mereka sadar budaya tersebut mendatangkan turis, demikian juga banyak tradisi di dunia ini dilestarikan karena di samping bermakna memorial juga mendatangkan turis. Jika ini yang mendasari, justru pembuatan dan pemeliharaan tradisi ini akan semakin profesional, asalkan pengemban kebijakan dan pelaksana lapangan yang mendapat manfaat dari tradisi ini menyadari akan keberadaannya yang tergantung kepada tradisi tersebut, atau mendapatkan keuntungan dari adanya tradisi tersebut.

Banten Karya Seni Menjaga Kebersamaan

Tidak bisa dipungkiri bahwa kehidupan orang Bali telah diwarnai dengan kegiatan kesenian yang mendalam, khususnya dalam merekatkan hubungan sosial dalam suatu organisasi atau pemukiman tertentu. Hal ini sangat terasa sekali bahwa dalam segala hal keindahan menjadi dasar dari hubungan sosial. Pada masa lampau ketika masyarakat belum teratur dan kehidupan masih berkelompok-kelompok, maka tidak ada jalan lain untuk merekatkan keberadaannya dengan jalan lebih lama berada di tempat yang sama untuk jika terjadi sesuatu bisa melakukan mobilisasi cepat. Untuk menjaga kebersamaan ini maka segala sesuatunya haruslah memberikan waktu yang lebih lama untuk bersama-sama. Inilah yang menjadi dasar kenapa dalam suatu kegiatan sengaja dibuat lebih banyak unsur seni yang akan memakan waktu lebih lama yang kita kenal kerjasama gotong royong, yang bukan saja pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar, tapi pekerjaan yang kecil-kecilpun dibuat agar menjadi perekat sosial lebih lama. Gejala ini kelihatan dilakukan oleh banyak suku bangsa di Indonesia bahkan dunia. Walaupun salah satu pasal dalam Dasa Sila orang Baduy disebut jangan terlalu tenggelam dengan seni, tapi sebenarnya bukan meniadakan seni. Karena meniadakan atau mengharamkan seni membuat manusia menjadi berjiwa kerdil.

Pilihan paket liburan ke Bali ini benar-benar didasarkan pada anggaran yang paling murah. Untuk program wisata grup di bawah inidipilihkan hotel-hotel yang bersifat hotel kota