GALUNGAN

profilekomunikasipaketkontak
paket tour 2 malam paket tour 3 malam paket tour 4 malam
Paket Tour Murah

Galungan adalah salah satu hari besar keagamaan di Bali yang jiwanya adalah asli Idonesia yaitu penghormatan leluhur atau peringatan atas jasanya selama membina keturunannya agar menjadi manusia berguna. Tidak dipungkiri jiwa asli Indonesia ini dipengaruhi juga oleh unsur asing seperti tradisi India melalui Hindu. Perayaan hari keagamaan ini agak berbeda dengan Hindu Bali yang berkembang lebih awal, tapi sangat dipengaruhi oleh tradisi Jawa Hindu. Tradisi ini mulai masuk Bali tahun 1010 M. pada waktu pemerintahan Sri Udayana Warmadewa. Perhitungan kalender ini sangat aneh, karena terdiri dari 30 bulan, dan masing-masing bulannya terdiri dari 7 hari yang disebut dengan wuku, bahkan ada yang terdiri dari 3 hari, 5 hari, 7 hari dan seterusnya. Pada masyarakat Jawa tradisional kalender 3 dan 5 hari ini masih dikenal, karena yang 3 hari berhubungan dengan hari pasaran, dan yang 5 hari sehubungan dengan ritual. Sedangkan yang 7 hari kebetulan mirip dengan kalender internasional Masehi yang disebut dengan mingguan. Berdasarkan kalender ini 1 tahun ada 210 hari, oleh karena itu Galungan ini akan dirayakan setiap 210 hari sekali. Jadi sampai sekarang masyarakat Bali menganut dua system penanggalan.

Perbedaan Galungan Bali Utara dan Selatan

Perayaan ini pada awalnya hanya dilakukan oleh masyarakat Bali selatan, sedangkan Bali utara hanya baru setelah kemerdekaan ikut merayakannya tapi tidak semeriah Bali selatan. Perayaannya dirangkai dengan kegiatan-kegiatan yang berkaitan, misalnya 2 hari menjelang perayaan disebut hari penyajaan, artinya masyarakat khususnya para ibu rumah tangga akan menyiapkan berbagai kue ( Bali : jaja ), kemudian sehari menjelangnya disebut penampahan, artinya hari untuk menyiapkan daging ( Bali : nampah ). Sehari setelah hari perayaan disebut manis, artinya menkmati paska perayaan dalam bentuk kreasi makanan, keramaian warga, liburan dan sebagainya, sedangkan hari ke-2 setelahnya disebut pahing, artinya kembali lagi seperti semula dengan kekuatan dari para leluhur. Jadi semuanya bermakna simbolik, tidak ada yang mempertajam kehidupan nyata.

Dekorasi Galungan

Untuk memeriahkan suasana, masyarakat membuat penjor, menghiasai pintu gerbang, pura keluarga, dan rumah-rumah dengan seni kreatif daun janur atau daun kelapa muda ditambah dengan kain warna warni, bau dupa yang harum, dan berpakaian adat Bali ( Bali tidak mengenal pakain a la Hindu ) namun jenis pakaian ini sekarang dianggap sebagai pakain kehinduan. Di antara kerabat saling kunjungi dengan membawa banten untuk bersukur kepada kakek/nenek yang telah menurunkan mereka dengan sembahyang di pura orang tua tersebut. Di selurah desa di Bali kelihatan begitu meriah dan indah yang kiri kananyna dihiasi, ibu-ibu atau para remaja perempuan berpakaian adat Bali menjujung sesajen lalu lalang di jalan-jalan desa. Hal ini telah menjadi salah satu penyebab Bali ditulis oleh antropolog, arkeolog, wartawan dan mereka yang melihat langsung Bali pada masa penjajahan. Tulisan-tulisan mereka tersebar di berbagai penerbitan besar dunia sehingga Bali manjadi dikenal luas.

Di Bali berlaku tradisi apa yang dikenal dalam istilah antnropologi sebagai new local. Artinya setelah seorang anak membentuk keluarga mereka keluar dari keluarga besar membangun rumah sendiri atau menyewa sebelum mampu mendirikan sendiri. Setelah mereka mampu mendirikan rumah sendiri akan mendirikan pura keluarga agar tidak perlu setiap saat datang ke rumah orang tuanya untuk sembahyang atau memperingati roh leluhur, jadi cukup dari rumah barunya. Namun demikian mereka berarti tidak putus hubungan sama sekali.