GUA GAJAH

profilekomunikasipaketkontak
paket tour 2 malam paket tour 3 malam paket tour 4 malam
Paket Tour Murah

Gua Gajah adalah salah satu obyek wisata sejarah yang paling populer bagi semua wisatawan karena usianya yang sudah sekitar 1000 tahun, sesuai dengan ciri-ciri seni pahat dan sifat kepercayaan yang masih bisa diteliti. Lokasinya tidak jauh dari kota Ubud hanya sekitar 5 km di sebelah timurnya, dan dalam satu jalur jika berwisata ke Pura Tirta Empul dan Kintamani. Paket tour yang memasukkan obyek ini bisa dilihat dari daftar pilihan yang cukup banyak dengan mengklik Paket Wisata Bali

Lokasi Guwa

Obyek wisata Guwa Gajah terletak di tepi sungai Petanu sekitar 3 km di sebelah timur kota Ubud, dan dekat dengan desa Pejeng yang lokasinya hanya 2 km dari Guwa Gajah. Wilayah antara Guwa Gajah ke utara sampai dengan daerah Tampak Siring banyak sekali ditemukan peninggalan dari abad antara 11 sampai dengan 15 berupa pahatan di dinding tebing sungai maupun patung padas di dataran. Dari Denpasar lokasi Guwa Gajah sekitar 35 km kalau melalui kota Ubud, dan sekitar 30 km kalau melalui desa Mas dan sekitar 28 km kalau melalui desa Kemenuh. Baik melalui Ubud, Mas, maupun Kemenuh akan melalui jalur yang penuh dengan berbagai kegiatan seni dan kerajinan seperti seni patung dan kerajinan tangan yang sangat terkenal di Bali.

Lingkunan Alam Guwa

Ada dua sungai di wilayah ini yaitu sungai Petanu dan sungai Pekerisan. Kedua sungai ini nampaknya merupakan tempat yang sangat menarik bagi seniman di masa lampau untuk menciptakan karya seni, sehingga banyak sekali ditemukan peninggalan di sepanjang kedua sungai ini. Kebanyakan dari peninggalan purbakala ini berupa miniatur dari sebuah gedung, tempat pemujaan, dan relief orang dan mitologi. Salah satunya yang sangat dikenal dalam bidang pariwisata adalah Guwa Gajah yang berada di desa Bedulu, kecamatan Ubud.

Nampaknya tidak jauh dari Guwa Gajah adalah ibukota kerajaan Bali di masa antara tahun 900 s.d 1343, karena peninggalan purbakala Gua Gajah memberikan asumsi tentang adanya permandian dekat istana seperti yang dibangun oleh raja-raja pada masa modern seperti Taman Sari di Jogjakarta, Tirta Gangga dan Taman Ujung di Karangasem, dan Taman Mayura di Lombok. Namun sampai saat ini belum ditemukan adanya bekas-bekas atau tanda-tanda tentang keberadaan istana raja Bali tersebut. Sayangnya juga demikian banyak dokumen resmi dari kerajaan mulai abad ke-9 tidak satupun ada yang menyebutkan ibukota kerajaan.

Guwa Gajah yang dibangun di tepi sungai Petanu merupakan sebuah gua buatan yang berbentuk huruf T dan di gerbangknya diukir menyerupai Boma, dan di halamannya ada kolam dengan patung pancuran yang mirip dengan peninggalan di Belahan dekat Kediri Jawa timur. Tentang nama Gua Gajah ini ada kemungkinan diambil dari kitab Negara Kertagama yang menyebutkan tentang sebuah tempat di Bali bernama Luwa Gajah, walapun sebenarnya dari ciri fisik sama sekali tidak bisa dikaitkan dengan Gajah, kecuali adanya patung Ganesha di dalam ruangan Guwa. Karena Ganesha berkepala Gajah nampaknya bisa juga masyarakat setempat menyebut nama dari patung ini. Guwa ini dibersihkan kembali sehingga muncul adanya kolam permandian yang cukup mencengkan di halaman sekitar tahun 1950 oleh dinas purbakala yang kebanyakan para akhlinya dari Belanda. Dulunya daerah ini tertutup oleh tanah dan ilalang beserta pephonan yang tinggi.

Di sekitar tempat ini ditemukan patung Buda yang mirip dengan yang ada di candi Borobudur, demikian juga sebuah tempat pertapaan yang bersifat Buda tidak jauh dari tempat tersebut. Sebuah patung padas yang sekarang ditaruh pada bangunan kecil dekat mulut Gua Gajah dengan anak yang banyak adalah patung Hariti yang di Bali dikenal sebagai Men Brayut dan ini jelas-jelas mencirikan agama Buda. Namun adanya patung Ganesha dan Lingga di dalam gua agak membingungkan mengenai status dari kompleks di sekitar Gua Gajah ini. Mungkin saja antara para penganut Siwaisme dengan Budisme sudah berdampingan waktu itu.

Usia Guwa

Pada dinding gua terdapat tulisan yang dibaca Sahi Vamsa, dengan bentuk huruf yang disebut dengan Kadiri Kwadrat, karena bentuknya yang segi empat benar. Huruf ini berkembang jakam Kediri sekitar jaman Wishnu Wardhana, jadi sekitar tahun 1298, atau menjelang berdirinya kerajaan Majapahit. Masih banyak reruntuhan yang belum bisa direkonstruksi karena kukrangnya data penunjang. Semua reruntuhan tersebut ditaruh begitu saja di halaman sebelah selatan.

Bagi wisatawan untuk melihat gua dan permandian ini harus turun dari tempat parkir melalui beberapa undagan yang agak tajam, walaupun hanya sekitar 50 meter. Karena lokasinya di tebing sebuah sungai maka akan kelihatan agak curam, sehingga bagi mereka yang takut ketinggian akan sulit untuk mencapai tanpa dipandu dengan kuat.

Untuk mengunjungi Guwa Gajah ini wisatawan bisa memilih paket tour yang disebut Barong Kintamani yang memang disiapkan salah satunya mengunjungi tempat ini setelah mengunjungi beberapa tempat di daerah Ubud, sebelum dilanjutkan ke pura Tirta Empul di desa Tampak Siring. Tikekt masuk WNI ata WNA sama Rp 15.000