LUKISAN KHAS BALI

profilekomunikasipaketkontak
paket tour 2 malam paket tour 3 malam paket tour 4 malam
Paket Tour Murah

Para seniman lukis dan karyanya telah menjadi obyek wisata yang paling populer di kalangan wisatawan manca negara. Oleh karena itu nama desa seperti Kamasan, Batuan dan Ubud menjadi demikian terkenalnya di luar negeri. Antara ketiga gaya lukisan di atas bisa dikatakan beruhubungan tapi tidak sama, karena dari sejarah kelihatannya terkait, sehingga dapat direkonstruksi bagaimana perkembangan lukisan tersebut menuju kepada lukisan Ubud yang obyeknya tradisional akan tetapi teknik melukisnya modern. Untuk melihat paket-paket tour yang menawarkan kunjungan ke seniman lukis ini bisa diklik Paket Tour Bali

Bali mulai mengenal lukisan kanvas sesungguhnya sekitar tahun 1500 M. Pada waktu itu berkuasa raja Bali bernama Dalem Watur Renggong yang istananya sudah dipindahkan dari Gianyar ke Gelgel ( dekat Klungkung sekarang ). Ketika sang Raja menginginkan menikahi putri raja Blambangan ternayata ditolak, dan terjadilah peperangan yang mengakibatkan Banyuwangi berada di bawah kerajaan Bali. Pada waktu pasukan Bali kembali dari Banyuwangi disita sebuah kotak penuh dengan wayang. Dan inilah ispirasi pertama munculnya gambar kanvas di Bali yang dikenal dengan gambar gaya Kamasan

Desa Kamasan terletak hanya 2 km sebebelum kota Klungkung, dan sekitar 4 km dari Gelgel, dekat dengan jalan utama antara Denpasar - Klungkung. Nampaknya desa ini sudah ada sejak pusat kerajaan Bali dipindah dari Gianyar ke Gelgel, sehingga para seniman waktu pasukan Bali kembali dari Banyuwangi langsung dapat ispirasi untuk membuat lukisan di atas kanvas. Kalau kita perhatikan desa ini kelihatannya memang sangat setrategis lokasinya antara Gelgel dan Klungkung, sehingga mungkin saja desa ini dahulunya adalah tempat kedudukan seorang pejabat tinggi dari kerajaan.

Gambar-gambar gaya kamasan ini, walaupun teknik seni lukis di Bali sudah sedemikian berkembangnya, tetapi mereka tetap mempertahankan gayanya, hanya mereka mengembangkan selain melukis di atas kanvas, mereka juga melukis kulit telur, bambu, dan sebagainya. Untuk bahan pewarnaanpun mereka masih tetap menggunakan bahan tradisional, walaupun sudah ada yang menggunakan akrilik, tapi jiwa Kamasannya menjadi agak hilang. Satu kampung di Kamasan hampir semua orang sebagai pelukis, tetapi dalam kehidupan sehari-harinya mereka menggabungkan antara kegiatan melukis dengan profesi lainnya seperti petani, pedagang, pegawai dan sebagainya.

Sebuah paket tour bernama Besakih sangat cocok jika disisipi dengan persinggahan di desa ini untuk mengenal lebih dekat tentang desa dan sejarah lukisan Bali ini. Masih di masa lampau dari adanya lukisan gaya Kamasan ini berkembang lukisan gaya Batuan, yaitu sebuah desa yang sangat dekat dengan Ubud, dengan bahan yang lebih tajam dan obyek lebih bervariasi bukan saja dari tokoh-tokoh wayang tetapi juga obyek adat. Sehingga kelihatan gaya Batuan ini lebih kuat, walaupun secara samar-samar gaya Kamasan masih belum hilang dari aliran ini. Di Ubud muncul gaya lukisan Ubud yang jauh lebih teliti dan indah, karena sudah memasukkan obyek alam di samping dari adat dan wayang. Kalau diperhatikan demikian telitnya seniman, sehingga seolah-olah daun pohon dihitung. Pada tahun 1920an banyak seniman Barat yang datang ke Bali karena mendengar adanya lukisan unik di Bali. Kedatangan mereka merupah teknik melukis di Bali dengan memperkenalkan dimensi baru yaitu obyek 2 dan 3 dimensi. Dengan perkenalan ini timbullah aliran yang disebut dengan Young Artist.

Semua jenis lukisan ini sampai sekarang masih bisa dilihat di kolektor-kolektor seni, studio dan art-shop di wilayah Ubud dan tempat lainnya di Bali.