KAIN GRINGSING

profilekomunikasipaketkontak
paket tour 2 malam paket tour 3 malam paket tour 4 malam
Paket Tour Murah

Kain GringsingDesa Tenganan selama ini dikenal sebagai salah satu obyek wisata desa kuno dalam kepariwisataan Bali. Lokasi desa ini berada di tengah-tengah antara perbukitan di kabupaten Karangasem. Perbukitan yang mengelilingi desa Tenganan ini berfungsi seperti benteng, yang mungkin saja di masa lampau mereka merasa lebih aman di tempat seperti itu. Berdasarkan penelitian sejarah masyarakat Tenganan ini katanya merupakan kelompok migran awal ke Bali dibandingkan dengan masyarakat Bali lainnya. Bersama dengan beberapa desa kuno Bali lainnya seperti Trunyan, Sembiran, Tigawasa, dan Pedawa disebut sebagai Bali Aga yang artinya Bali asl.

Agak berbeda dengan masyarakat di daerah lainnya di Indonesia yang mempunyai ciri bertempat tingal di pegunungan seperti Toraja, Batak, masyarakat Bali Aga ini sema sekali tidak menunjukkan adanya tanda-tanda bahwa mereka dekat dengan kehidupan laut, atau adanya simbul-simbul kehidupan laut seperti bentuk rumah atau kesenian lainnya. Mereka menunjukkan kedekatannya dengan desain rumah dengan orang Bali pada umumnya, namun ciri fisik mereka sedikit lebih berbeda seperti warna kulit yang lebih cerah, dan tradisi adat dan kegiatan keagamaan yang agak berbeda.

Masyarakat Tenganan ini bukan saja terkenal karena kerajinan kain gringsing akan tetapi juga dengan tradisi perang pandan dan tulsan daun lontarnya. Proses pembuaan kain gringsing ini sungguh sangat lama dan rumit, karena mulai dari membuat benang, membuat warna, dan proses tenun dan pewarnaannya. Bahan kain mereka di masa lampau diambil dari serat pepohonan yang khusus tumbh di sekitaran desa, belakangan dari bunga kapas yang tumbuh di Nusa Penida yang hanya berbiji satu, dan demikian juga untuk pewarnaan berasal dari buah-buahan yang diolah menghasilkan warna merah, hijau muda dan hitam. Atau Motif kain gringsing hanya menggunakan tiga warna yang disebut tridatu. Pewarna alami yang digunakan dalam pembuatan motif kain gringsing adalah 'babakan' (kelopak pohon) Kepundung putih (Baccaurea racemosa) yang dicampur dengan kulit akar mengkudu (Morinda citrifolia) sebagai warna merah, minyak buah kemiriberusia tua (± 1 tahun) yang dicampur dengan air serbuk/abu kayu sebagai warna kuning, dan pohon Taum untuk warna hitam. Dalam jaman moderen ini bahan sering dibeli yang sudah siap tenun, hanya prosesnya tetap secara tradisional, khususnya benang tenun. Hasil dari pembuatan gringsing modern ini warnanya lebih cerah dari yang segalanya dibuat dari asli lokal. Nmaun kain yang dibuat semuanya dari bahan lokal, walaupun warnanya kurang cerah akan tetapi warna tersebut sangat awet walupun sudah bertahun-tahun dibandingkan dengan warna bahan yang baru ini.