BABI GULING

profilekomunikasipaketkontak
paket tour 2 malam paket tour 3 malam paket tour 4 malam
Paket Tour Murah

Ternyata bukan saja Bali yang mengenal yang namanya guling, di daerah Sumatra yaitu di Karo juga ada masakan yang mirip pembuatannya dan bahannya juga babi. Akan tetapi guling Bali prosesnya lebih rumit, banyak jenis bumbu yang harus dipakai untuk membuat dagingnya merasa enak. Proses memasaknya juga perlu waktu berjam-jam agar kulitnya renyah, karena kulitnya inilah yang paling disukai. Masakan babi guling ini sangat disukai oleh masyarakat dari berbagai negara, kecuali Muslim, dan sangat terkenal di manca negara. Banyak wisatawan yang paket tournya harus disusun dengan memasukkan makan di restoran guling, sehingga perkembangan ini mengangkat citra masakan babi guling ini menjadi standard internasional. Bayak pengusaha culinary asing yang mencoba memodifikasi masakan ini untuk menyesuaikan dengan perut mereka khususnya dari segi bumbu agar tidak menimbulkan masalah, dan mereka mendirikan restoran bekerjasama dengan orang Bali khusus untuk tamu asing. Sampai sekarang salah satunya yang terkenal yaitu restoran Bumbu Bali di Tanjung Benoa dibangun oleh orang Jerman.

Guling Untuk Orang Eropah

Babi guling yang sudah disesuaikan jenis bumbunya untuk perut orang Eropah atau Asia lainnya ternyata bagi orang Bali kurang menarik, oleh karena itu di antaranya ada juga orang Bali yang berkreasi sendiri untuk mengurangi kerasnya bumbu rempah-rempah yang dipakai secara tradisional, dan justru jenis ini yang paling banyak disukai wisatawan. Wisatawan Cina, Thailand, Taiwan, Jepang, Eropah, Australia, dan Amerika memburu jenis ini, sehingga perkembangan usaha warung makan babi guling merebak di setiap sudut kota maupun desa. Mereka yang masih menginginkan masakan secara tradisi tetap masih ada dan yang paling terkenal ada di dalam kota Gianyar dan hanya beberapa saja di luar itu, karena sekarang orang Bali sendiri cendrung memilih yang bumbunya tidak begitu kuat. Jika ada ritual manusia seperti upakara 3 bulanan atau ulang tahun biasanya dibuatlah masakan babi guling, khususnya di pedesaan, nah jenis masakan ini pasti masih menggunakan bumbu yang kuat. Memang rasanya demikian lezat, akan tetapi kebanyakan orang perutnya tidak kuat untuk menghadapi kerasnya rempah-rempah tersebut sehingga sering menimbulkan rasa sakit perut atau mules-mules yang cukup mengganggu.

Pada tahun 1980an ketika wisatawan Australia membanjiri Bali, mereka juga menyerbu warung babi guling dan informasi mengenai dampak dari makan rempah seperti itu belum disadari baik oleh pengelola jasa wisata maupun oleh departemen kesehatan Australa, apalagi Indonesia, khususnya dinas di Bali. Sebagai dampak dari memakan babi guling yang enak ini banyak wisatawan Australia yang sakit perut yang dikenal dengan istilah penyakit Bali Belly. Sebelumnya ada anggapan bahwa makanan Bali tidak hiegienis, dan setelah dilakukan inspeksi oleh agen-agen perjalan Australia ditemukanlah bahwa penyebab Bali Belly ini karena rempah-rempah, jadi selamatlah nama kuliner Bali.

Dampak Pengenalan Guling ke Manca Negara

Sebagai dampak positif langsung kepada masyarakat Bali secara luas adalah tumbuhnya usaha peternakan babi yang lebih luas dan besar. Bahkan ada peternak besar dengan memberikan pakan produksi pabrik, dan mendatangkan bibit unggul dari luar seperti jenis lindris dan sadleback. Akan tetapi karena Indonesia bukan negara industri peternakan maka perkembangan pasar dunia mempengaruhi harga pakan dalam negeri yaitu kenaikan harga yang tajam setelah Rupiah jatuh secara pelan tapi pasti, dan bahkan anjlok sejak 1998. Perbedaan rate tukar yang besar ini memukul perdagangan import dan naiknya harga pakan. Hal ini menyebabkan harga daging babi melambung, dan justru bukannya memberi keuntungan bagi peternak, justru memukulnya karena harga mahal akan tetapi tidak laku. Setelah lama tidak laku maka peternak rugi, dan daging babi anjok, dan dengan anjoknya harga ini memukul peternak dua kali. Pola ini sepertinya berulang-ulang, akan tetapi ada namanya dinas perdagangan atau dinas-dinas lainnya sepertinya tidak berfungsi inilah yang akan menyumbang salah satu penyebab defisit anggaran daerah maupun pusat, karena tidak membangun masyarakat produktif. Dan ini jugalah dampak dari sebuah negara yang tidak mempunyai konsep dasar sebuah industri, sehingga sangat mudah digoyang oleh kondisi luar.

Kita tentu berharap sangat banyak kepada pemerintah sebagai regulator dan pengawas yang bisa melihat dari atas apa yang harus dilakukan agar bisa membangun perekonomian masyarakat, karena dengan kuatnya perekonomian masyarakat pemerintah tidak perlu takut akan adanya defisit anggaran karena subsidi minyak atau yang lainnya sesuai konstitusi akan diimbangi oleh pendapatan dari segi pajak jika pembayar pajak semakin banyak dan intensif.