SATE LILIT

profilekomunikasipaketkontak
paket tour 2 malam paket tour 3 malam paket tour 4 malam
Paket Tour Murah

Sebenarnya nama sate bukan saja dikenal di Bali akan tetapi di banyak daerah di Indonesia untuk menunjuk sebuah kreasi masakan daging yang dipotong kecil-kecil kemudian ditusuk berjejer 3 atau 4 potongan daging. Tidak demikian halnya dengan sate lilit yang dikenal di Bali. Bali mengenal baik sate tusuk yang disebut kasem maupun sate lilit. Aroma sate lilit ini di Bali demikian erat kaitannya dengan ritual keagamaan dan tradisi lainnya di masyarakat adat. Bagi orang Bali sate lilit ini bagaikan bumbu masak yang membuat masakan tersebut menjadi lezat, melihat sate menjadikan orang seketika lapar atau merangsang rasa lapar seseorang.

Sate lilit Bali

Jenis Sate

Ada perbedaan antara masyarakat Bali yang tinggal di pedalaman dan yang tinggal di pantai dalam hal tradisi sate ini. Masyarakat pedalaman menggunakan bahan dasar daging, sedangkan masyarakat pesisir lebih banyak menggunakan ikan, walaupun mereka juga membuat yang berbahan daging. Daging yang umum dipakai adalah babi dan ayam. Rasa dan aroma dari kedua sate lilit ini ada perbedaan yang cukup kuat. Sate lilit yang dibuat dari daging babi aromanya harum dan lezat, sedangkan yang dibuat dari ayam biasanya tidak begitu kuat, walaupun bumbunya dibuat dari rumus yang sama. Seperti juga masakan babi guling dan pembuatan lawar, kebanyakan dipakai bumbu rempah yang kuat, sehingga untuk beberapa orang Balipun ada yang tidak kuat perutnya untuk mencernanya.

Bahan Sate

Pembuatan sate lilit ini tergolong mudah, karena bahannya tidak begitu banyak. Pertama tentu daging murni, kelapa yang diparut halus, bumbu, dan tangkai sate yang panjangnya sekitar 20 cm terbuat dari bambu atau pelapah kelapa, atau ada juga yang memakai batang sreh. Daging murni ini harus mendapat perhatian khusus sejak hewan dipotong, karena tidak boleh kena air, sehingga cara pemotongannya harus bersih. Daging murni ini dicincang halus dengan menumbukknya dengan lesung dan alu. Sekarang banyak yang sudah memakai penghancur atau slip daging. Bumbu juga harus ditumbuk halus barulah kemudian dicampurkan ke daging yang sudah benar-benar halus bersama dengan parutan kelapa. Kehalusan komponen ini dibuat semaksimal mungkin agar gampang merekat pada tangkainya, terlebih-lebih lagi kalau tangkainya dibuat dari pohon sre yang demikian licin. Secara tradisi untuk memasak sate ini dipakai api atau dibakar untuk membuat rasanya lebih enak. Akan tetapi pada jaman sekarang ini dengan alasan agar sate lilit ini lebih tanah lama, banyak yang memasaknya dengan cara menggoreng. Walaupun sebenarnya sudah disadari bahwa sate yang digoreng tidak akan seenak yang dimasak dengan cara membakar.

Popularitas Sate

Restoran nasional maupun internasional di Bali banyak menggunakan pohon sre untuk tangkai sate ini karena menimbulkan aroma yang menantang atau menyebabkan rasa lapar, dan masyarakat duniapun sudah mengenal sreh ini sebagai lemon grass, maka dengan melihat sate ini wisatawan sudah mengerti itu masakan enak. Baik sate lilit yang bahan dasarnya daging maupun ikan kalau dilekatkan pada tangkai pohon sreh akan sangat merangsang rasa lapar, dan bentuk penyajian ini juga dikatakan sangat istimewa. Pada kenyataannya hampir semua restoran di Bali tidak pernah tidak ada sajian sate lilit, seolah-olah sudah merupakan bagian tak terpisahkan dengan kuliner nasional maupun internasional yang ditawarkan di Bali. Seharusnya kita bangga karena ternyata sate ini juga sudah mendunia yang diberi nama dalam bahasa Inggris satay dan sudah masuk dalam kamus.

Untuk kegiatan ritual di Bali sate lilit inipun sebenarnya ada beragam bentuk, bukan saja seperti apa yang masyarakat lihat di restoran-restoran. Namun pembuatannya yang rumit dan tidak efisien untuk dipakai sebagai hidangan sehari-hari maka tidak dikenal oleh orang luar Bali, dan bahkan tidak semua orang Bali sendiri yang bisa membuatnya, karena dari bentuk tangkainya saja sudah dibuat berbeda. Adalah kebiasaan dalam kehidupan agama selalu membuat simbul, karena senangnya membuat simbul, maka kehidupan juga sering hanya simbolis.