PELESTARIAN ALAM CARA BALI

profilekomunikasipaketkontak
paket tour 2 malam paket tour 3 malam paket tour 4 malam
Paket Tour Murah

Orang Bali sekarang ini seharusnya sangat bersukur karena mewarisi tradisi pelestarian yang di masa lampau kiranya sulit dilakukan ketika jumlah penduduk sangat sedikit dan hutan belantara yang demikian tebal dan luas. Sejak Bali memasuki jaman sejarah sesuai catatan prasasti Sukawana yang bertanggal 882 M sudah ada tanda-tanda pelestarian alam khususnya tumbuh-tumbuhan dan lingkungan alamnya sekitaran danau Batur, batas-batas hutan ditetapkan dan pajak dibebaskan oleh raja yang berstana di Singhamandawa.

Tradisi ini berlanjut sampai jaman Bali Kuna yaitu pada masa pemerintahan dinasti Warmadewa, dan Bali Majapahit pada masa pemerintahan dinasti Kepakisan. Pada masa pecahnya Bali menjadi paling tidak 9 kerajaan mulai abad 17 M (mulai 1651 M) trandisi ini tetap terpelihara dengan baik. Banyaknya jumlah pura atau tempat suci di Bali merupakan praktek pelestarian alam dan karya budaya yang menjadi tradisi hidup dari semua kerajaan yang ada di Bali walaupun mereka secara politik bersaingan dan bahkan saling serang untuk merebut daerah kekuasaan.

Kemungkinannya yang menjadi dasar utama dari pelesatarian alam ini bukan saja pemeliharaan habitat dari hewan buruan, namun ada yang lebih mendasar dari itu karena pelestarian juga dilakukan pada peninggalan benda-benda budaya dan konsep hukum. Sangat mungkin pemeliharaan hewan seperti sapi, kerbau, dan unggas sudah dikenal, namun karena keterbatasan teknik di masa lampau perburuan binatang liar masih tetap ada dan dilindungi oleh kerajaan. Sedangkan perlindungan karya budaya juga tak ketinggalan seperti peninggalan bangunan, patung-patung padas, relief-relief dan lainnya. Di setiap situs baik itu alam maupun karya budaya kita akan menjumpai sebuah atau lebih pura atau tempat suci. Bahkan sebuah pohon yang sudah berumur diberikan simbul-simbul keagamaan seperti altar tempat menaruh sajen, diberi kain poleng, dan sebagainya.

Cara di atas sangat efektif untuk melindungi alam dan benda budaya bahkan sampai jaman sekarang, ketika hukum positif sudah tersedia. Bahkan tradisi Bali lebih efektif dibandingkan hukum positif, lihat saja contohnya kawasan hijau yang ditetapkan oleh pemerintah anda bisa lihat faktanya, namun yang diberi simbul-simbul agama tak ada yang berani mengganggu. Kita masih mewasisi pelestarian fauna seperti kera di Sangeh, Kedaton, Ubud, kelelawar di Karangasem, dan ular laut di Tanah Lot dan berbagai pantai Bali lainnya, dan tempat lainnya tanpa ada gangguan sedikitpun dari manusia, ini patut diapresiasi.

Di masa kerajaan, semua orang sudah menyadari bahwa raja adalah hukum atau raja adalah negara, tak jauh beda dengan konsep kerajaan di Perancis, l'etat est moi, oleh karena itu sumber hukum tertinggi adalah Tuhan, jadi tradisi pelestarian di Bali memakai sumber tertinggi di masa itu yaitu Tuhan, itulah sebabnya setiap titik pelestarian akan ditermukan tempat permohonan kepada Tuhan agar menghukum siapapun yang merusak alam, fauna dan peninggalan budaya.

Praktek pelestarian dan perlindungan alam, karya budaya dan fauna di masa lampau memberikan inspirasi kepada perlindungan irigasi dari ketidakjujuran anggotanya dengan sumpah setia pada kesepakatan tentang keadilan dan kejujuran pembagian air. Simbul dari konsep ini adalah Pura Subak atau Bedugul tempat para anggota bersumpah untuk jujur dan adil dalam mengelola sumber air yang terbatas. Ini juga menggunakan hukum Tuhan yang diwujudkan sebagai pura Subak dengan ritual sesuai kalender yang dianut misalnya Hindu Jawa atau Caka. Proses perlindungan kesepakatan seperti ini sebenarnya sudah ditemukan dalam sejarah kerajaan Jawa yang dibuktikan dengan adanya penerbitan prasasti-prasasti yang mengandung sapatha atau kutukan bagi yang melanggar dan dibacakan di depan mereka yang bersepakat oleh petugas bernama Makudur disaksikan oleh raja. Tradisi ini masih terpelihara dengan baik di Bali, kita harus bersukur sambil menunggu kesadaran setiap individu secara instrinsik.

Nah sekarang dengan kemajuan pengetahuan tentang alam ternyata konsep berpikir masa lampau di Bali senafas dengan para ilmuwan bahwa pelestarian alam dan budaya itu adalah suatu keharusan untuk menjaga dunia ini bisa tetap mendukung kehidupan manusia dan mengukuhkan kepribadiannya sebagai sebuah bangsa. Kalau kita telusuri lebih jauh sekitar 3000 tahun lalu para Rsi di jaman catur weda sudah merumuskan konsep berpikir ini yang kita kenal dengan rumusan Sat/Brahman - dharma - karma. Sat/Brahman dan dharma adalah hukum2 alam dan sosial yang berdiri sendiri, sedangkan karma adalah tindakan atau perbuatan manusia untuk memahami hukum-hukum itu demi keselamatan atau kehancuran diri dan keturunannya.


Pilihan paket liburan ke Bali ini benar-benar didasarkan pada anggaran yang paling murah. Untuk program wisata grup di bawah inidipilihkan hotel-hotel yang bersifat hotel kota Paket overland Jawa-Bali Overland ( city hotel ) untuk kelas melati di kota Denpasar, namun secara kualitas kondisi kamarnya cukup baik atau standard untuk wisatawan Nusantara. Karena untuk paket wisata yang mengutamakan kunjungan budaya yang meliputi berbagai jenis kesenian, keindahan alam, dan berbagai aspek kehidupan di Bali akan lebih banyak di luar hotel, sedangkan hotel hanya untuk istirahat yang baru masuk hotel setelah makan malam.

Wisata Rekreasi Bali Obyek Wisata Buatan

Khusus untuk Bali yang merupakan salah satu tujuan wisata populer dunia maupun lokal telah mampu menawarkan fasilitas wisata yang paling lengkap dengan berbagai paket tour. Semenjak tahun 2000 telah dimulai penawaran yang namanya paket liburan murah atau wisata murah walaupun sebenarnya tidak murah benar akan tetapi akan disesuaikan dengan kondisi harga masing-masing komponen penunjang program paket tour murah ke Bali tersebut. Hal ini berkaitan dengan jenis dan tingkat katagori hotel yang dipakai dalam paket, serta jenis masakan apa saja yang ingin dimasukkan.

TulambenTulamben
pantai Blue Pointpantai Suluban
KintamaniMenjangan